Dinkes Ngawi Gelar Pelatihan Bedah Tikus untuk Perkuat Surveilans Leptospirosis”dr. Yudono dan dr. Agus Priyambodo Pantau Langsung OJT Penguatan Deteksi Dini

NGAWI, indonesia-jaya. Com– Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit leptospirosis di Kabupaten Ngawi semakin diperkuat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi melalui Kepala Dinas dr. Yudono dan Sekretaris Dinas dr. Agus Priyambodo memberikan pelatihan teknis pembedahan tikus kepada petugas kesehatan Puskesmas dalam kegiatan On the Job Training (OJT) Penguatan Surveilans Leptospirosis. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kamis (9/8/2025), dan berlangsung selama empat hari.
Leptospirosis merupakan penyakit infeksi berbahaya yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat menyerang manusia maupun hewan dan biasa ditularkan melalui air atau tanah yang tercemar urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus liar. Penyakit ini dikenal mampu menyebabkan gangguan organ serius jika tidak ditangani sedini mungkin.
Pelatihan Empat Hari, Mulai Sosialisasi hingga Bedah Tikus
Pelatihan yang didampingi Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya tersebut dimulai dengan sosialisasi penyakit leptospirosis dan langkah-langkah pencegahannya. Kegiatan awal melibatkan tokoh masyarakat Kelurahan Pelem, termasuk para ketua RT, untuk membantu pemasangan sebanyak 100 perangkap tikus di lingkungan yang dinilai rawan keberadaan hama tersebut.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Upaya Kesehatan Masyarakat, dan Upaya Kesehatan Perorangan (Yankes UKM UKP) Dinkes Ngawi, drg. Retno Dewi Sulistiorini, menjelaskan bahwa pelatihan dilaksanakan bertahap. “Hari pertama itu sosialisasi ke warga dan ketua RT untuk membantu memasang perangkap tikus di titik-titik yang biasa menjadi jalur pergerakan tikus. Hari kedua mulai pembedahan, mengambil perangkap yang telah terpasang dan kemudian dibedah untuk selanjutnya dikirim ke laboratorium Surabaya,” jelasnya.
Metode ini bertujuan agar petugas kesehatan Puskesmas memiliki kemampuan teknis dalam membedah tikus serta mengambil sampel ginjal—bagian tubuh yang paling sering menjadi tempat bakteri Leptospira berkembang. “Teman-teman Puskesmas yang dikirim ke kelurahan diajari cara bedah tikus, kemudian mengambil sampel ginjal dengan tujuan agar kita bisa melakukan pemeriksaan secara mandiri,” imbuh drg. Retno.
Perkuat Deteksi Dini Leptospirosis di Ngawi
Pelaksanaan OJT ini merupakan bagian dari strategi Dinkes Ngawi untuk memperkuat deteksi dini kasus leptospirosis, mengidentifikasi faktor risiko, serta menekan peluang penularan penyakit. Dengan peningkatan kapasitas petugas Puskesmas, pemerintah daerah berharap proses surveilans dapat berjalan lebih efektif dan responsif.
Kasus leptospirosis sendiri pernah tercatat di Ngawi pada tahun 2017, dan kasus terbaru ditemukan pada Juli 2025 pada seorang warga Kecamatan Karanganyar. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat lingkungan yang lembap dan saluran air yang tidak terawat dapat meningkatkan risiko penyebaran bakteri.
Imbauan kepada Warga: Kendalikan Lingkungan, Tutup Akses Tikus
drg. Retno Dewi Sulistiorini juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan yang paling dasar namun penting. “Setidaknya dari diri kita sendiri, kita hindarkan tempat tumpukan sampah apa pun yang bisa menjadi media perkembangbiakan tikus. Rumah yang ventilasinya terbuka sebaiknya dipasang kasa. Begitu juga saluran air seperti selokan jangan sampai mampet,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pengendalian leptospirosis tidak hanya mengandalkan petugas kesehatan, tetapi harus didukung kesadaran masyarakat dalam mengelola lingkungan agar bebas dari tikus.
Komitmen Dinkes Ngawi Cegah Penyakit Berbasis Lingkungan
Kegiatan OJT ini sekaligus menunjukkan komitmen Dinas Kesehatan Ngawi dalam meningkatkan kapasitas petugas lapangan menghadapi penyakit-penyakit berbasis lingkungan. Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, BBLKM Surabaya, tokoh masyarakat, dan warga Pelem, diharapkan upaya pengendalian leptospirosis dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.(Lina/Adv)







