DKPP Ngawi Mendorong Pengembangan Budidaya tembakau, Produksi 2026 Berpotensi Tembus 3.600 Ton

Musim Kemarau Menguntungkan Petani Tembakau Ngawi, Produksi 2026 Berpotensi Tembus 3.600 Ton

NGAWI, Media Indonesia Jaya – Musim kemarau membawa angin segar bagi petani tembakau di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kondisi cuaca yang cenderung kering mendukung proses budidaya dan pengeringan hasil panen, sehingga membuka peluang peningkatan produktivitas serta pendapatan petani pada musim panen 2026.

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi, Supardi, SE., M.Si., melalui Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Anita Denni Arganingrum, SE., M.Si., Didampingi Dwi Rahayu Puspitaningrum, S.Hut., M.Si. menyampaikan bahwa luas lahan tembakau di seluruh wilayah Kabupaten Ngawi berada di kisaran 2.000 hektare.

 

Dari luasan tersebut, produktivitas tembakau disebut meningkat hingga sekitar 1,8 ton per hektare. Sementara harga tembakau rajangan kering berada pada kisaran Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram, bergantung pada kualitas dan kondisi pasar. Akhir September 2026

 

“Luas lahan tembakau di Kabupaten Ngawi berada di kisaran 2.000 hektare. Dari sisi produktivitas, saat ini bisa mencapai sekitar 1,8 ton per hektare. Sementara itu, harga tembakau rajangan kering berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram,” jelas Anita.

Supardi, SE., M.Si., Kepala DKPP melalui Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Anita Denni Arganingrum, SE., M.Si., Didampingi Dwi Rahayu Puspitaningrum, S.Hut., M.Si. saat sosialisasi Penanaman Tembakau

Menurutnya, musim kemarau menjadi kondisi yang menguntungkan bagi petani tembakau. Cuaca yang relatif kering membantu proses pengeringan daun setelah dipanen, sehingga penanganan pascapanen dapat dilakukan dengan lebih optimal. Meski demikian, petani tetap perlu memperhatikan kebutuhan air tanaman, pengendalian hama, serta kualitas tembakau agar hasil panen sesuai harapan.

 

Potensi tersebut juga mendapat perhatian dari kalangan petani. Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Ngawi, Sojo, menyatakan bahwa kenaikan harga tembakau kering menjadi kabar menggembirakan bagi petani. Kondisi tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani setelah melalui proses budidaya dan perawatan tanaman selama beberapa bulan.

 

Menurut Sojo, produksi tembakau Kabupaten Ngawi pada 2026 berpotensi mencapai 3.600 ton atau bahkan lebih. Potensi tersebut sejalan dengan luas lahan tembakau yang mencapai sekitar 2.000 hektare serta produktivitas yang dilaporkan meningkat.

 

Namun, di balik peluang peningkatan pendapatan tersebut, masih terdapat tantangan terkait keterbatasan kemitraan dengan industri penyerap tembakau. Kepastian pembelian hasil panen menjadi salah satu hal penting agar petani tidak hanya mampu menghasilkan tembakau dalam jumlah besar, tetapi juga memperoleh pasar yang jelas.

“Kepastian serapan dan harga menjadi kunci agar musim panen tembakau 2026 benar-benar mendongkrak kesejahteraan petani Ngawi,” ujar Sojo.

 

Keterbatasan kemitraan dengan industri menjadi perhatian karena hasil panen yang melimpah perlu diimbangi dengan permintaan pasar yang memadai. Tanpa kepastian penyerapan, petani berpotensi menghadapi kesulitan dalam memasarkan hasil panen, terutama ketika produksi meningkat secara bersamaan di sejumlah wilayah.

 

Karena itu, kemitraan antara petani, kelompok tani, asosiasi, dan industri pengolahan tembakau dinilai penting untuk memperkuat rantai pemasaran. Melalui kerja sama yang jelas, petani diharapkan memperoleh kepastian mengenai standar kualitas, mekanisme pembelian, serta harga yang disepakati.

 

Selain memastikan pasar, petani juga perlu menjaga mutu tembakau rajangan kering. Proses pengeringan yang tepat, penanganan hasil panen secara hati-hati, serta penyimpanan yang baik dapat membantu mempertahankan kualitas produk. Faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi harga jual yang diterima petani.

 

Dengan kisaran harga Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram, tembakau menjadi salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peluang ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Ngawi. Apabila potensi produksi mencapai 3.600 ton atau lebih dapat diimbangi dengan penyerapan pasar yang memadai, hasil panen tahun ini diharapkan memberikan dampak positif terhadap perekonomian petani.

 

DKPP Kabupaten Ngawi melalui bidang terkait diharapkan terus mendorong pengembangan budidaya tembakau, peningkatan produktivitas, serta perbaikan kualitas hasil panen. Sementara itu, penguatan komunikasi dan kemitraan dengan industri penyerap diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kesulitan pemasaran ketika panen berlangsung.

 

Musim kemarau 2026 pun menjadi momentum penting bagi petani tembakau Ngawi. Dengan produktivitas yang meningkat, harga jual yang menjanjikan, serta dukungan penyerapan hasil panen, komoditas tembakau diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.(Lina/Adv)