Widodaren Jadi Teladan Toleransi dan Kerukunan, Kades Petrus Bagoes Wijayanto dan Sekdes Agustinus Gaungkan Moderasi Beragama Lewat Festival Kebangsaan Rintisan Desa Pancasila

Ngawi, indonesia-jaya.com-Suasana penuh semangat kebangsaan dan wajah-wajah ceria generasi penerus bangsa mewarnai Minggu istimewa di Desa Widodaren, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi. Desa yang dikenal akan kerukunan warganya ini kembali menegaskan komitmennya sebagai ruang hidup toleransi melalui Festival Kebangsaan dan Pelatihan Moderasi Beragama, yang digelar dalam rangka program tahunan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Rintisan Desa Pancasila.
Memasuki tahun keempat pelaksanaan, kegiatan ini semakin menunjukkan dampak nyata bagi kehidupan sosial masyarakat.
Festival tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan wujud konkret upaya kolektif warga Desa Widodaren dalam menjaga keharmonisan antarumat beragama serta meneguhkan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di ruang terbuka desa ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari Kepala Desa Widodaren Petrus Bagoes Wijayanto, S.Sos., M.Si., Sekretaris Desa Agustinus beserta jajaran perangkat desa, ibu-ibu PKK, tokoh agama lintas iman, remaja gereja, hingga remaja masjid. Kebersamaan tersebut menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan justru memperkaya persatuan.
Suasana semakin semarak dengan penampilan seni dari anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Desa Widodaren. Mereka tampil percaya diri membawakan puisi kebangsaan, vocal group, tarian daerah, drama bertema toleransi, hingga lantunan hadroh.
Setiap pertunjukan tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi media edukasi yang menanamkan nilai persatuan, saling menghargai, dan cinta tanah air sejak usia dini. Tepuk tangan meriah warga menjadi bukti bahwa pesan toleransi dapat disampaikan secara kreatif melalui seni dan budaya.

Selain festival seni, kegiatan ini juga diisi dengan Pelatihan Moderasi Beragama yang disampaikan secara mendalam dan aplikatif. Dua narasumber, Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba, S.H., M.H., dan Budi Santosa, S.Pd.I., M.S.I., memberikan pemaparan mengenai pentingnya sikap moderat, dialogis, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam kehidupan beragama. Pelatihan dikemas interaktif dengan ruang diskusi dan refleksi bersama, sehingga materi tidak berhenti pada tataran teori, tetapi dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat Desa Widodaren semakin memahami makna moderasi beragama dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat secara nyata,” ujar salah satu narasumber di sela kegiatan.
Antusiasme masyarakat tampak dari keterlibatan aktif peserta sepanjang acara. Semangat kebersamaan, senyum hangat, dan interaksi lintas kelompok menjadi potret hidupnya nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat desa. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga mempererat ikatan sosial serta menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara.
Dengan konsistensi pelaksanaan program Rintisan Desa Pancasila yang digagas bersama Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Desa Widodaren kian mengukuhkan diri sebagai desa teladan toleransi dan moderasi beragama, sekaligus bukti bahwa persatuan dapat tumbuh kuat dari akar masyarakat. Jika Anda ingin versi lebih singkat, gaya media online, atau disesuaikan dengan redaksi tertentu, saya siap membantu.(Lina/Adv)






